Hakomari (Indonesia):Jilid 2 30 April

From Baka-Tsuki
Jump to navigation Jump to search

30 April (Kamis) 00:00[edit]

Hari kedua dimulai.

30 April (Kamis) 12.37[edit]

Istirahat makan siang telah dimulai.

Uapanku barusan mungkin disebabkan oleh telepon misterius yang kuterima pada jam enam pagi tadi :

"Hari ini aku akan membuatkan bekal makan siang."

Tapi, panggilan itu terputus sebelum aku sempat merespons.

Apa yang dia rencanakan kali ini...?

Ini hari terakhir bulan April, yang berarti Golden Week—liburan panjang kami—akan segera dimulai. Sekarang ini aku sedang menunggu Otonashi-san di koridor, seperti biasa. Kami biasa makan siang bersama di kantin sekolah; dia belum pernah membuatkan bekal makan siang untukku sebelumnya.

"Kazu-kun! Apa benar yang aku dengar dari Haru?! Kamu dapat bekal istimewa yang dibuat sendiri oleh Maria?!"

Suasana menjadi riuh. Kokone berjarak beberapa langkah di depanku, diikuti oleh Haruaki yang tersenyum meringis.

"...Haruaki, bukannya kau tadi kusuruh diam soal itu supaya aku tidak dapat masalah?"

"Ya, sih, tapi kan terserah aku mau menurut atau tidak!"

Teman yang menyebalkan.

"Kazu-kun, ada acara istimewa apa ini?! Ceritakan detailnya!"

"...yah, jangan tanya aku sebabnya, tapi aku dapat telepon tadi pag―"

"Telepon bangun pagi?! Kalian mesra amat, sih!"

Biarkan aku menyelesaikan kalimatku.

"Telepon bangun pagi..." gumam seseorang di belakangku. Aku menengok.

...Oh tidak. Datang lagi satu cewek merepotkan lainnya.

"Ah, Rikorin. Halo!" sapa Kokone.

"Selamat pagi..."

Gadis bernama panggilan itu adalah Riko Asami, seorang murid kelas satu bertubuh pendek dengan potongan rambut yang juga pendek. Ia teman sekelas Otonashi-san dan salah satu anggota Maria Otonashi fan club yang tumbuh sejak upacara pembukaan sekolah. Mereka berdua biasanya datang ke sini bersama-sama, tetapi nampaknya Asami-san sampai lebih dulu hari ini. Mungkin hanya perasaanku saja, namun ekspresi dan suaranya seperti lebih muram dibandingkan biasanya.

Asami-san memandang kosong ke arahku.

"...Hm?"

Atau dia merengut padaku?

"Aku dengar kau mendapat bekal makan siang dari Maria-san."

"I-iya, sepertinya."

Asami-san tidak memberi balasan apapun dan terus menatapku.

"......Andaikan baterai dalam sel-sel tubuhmu bisa meledak... kalau saja kau memakai baterai , baterai abal-abal murahan yang cepat rusak... meledak, baterai, meledak...!"

Gumaman kutukannya membuatku ngeri.

"T-Tapi dari semua siswa di sini, kenapa dia memilih Kazu-kun?" Kokone menyela sambil berusaha tersenyum untuk menghapus suasana yang tegang. "Gara-gara itu, Kazu- mendapat tatapan mengerikan dari cowok-cowok, kan? Aku dengar dia menempati posisi puncak dalam daftar 'People I'd Love to Kill by Faking an Accident!'"

"Daftar sadis macam apa itu memangnya siapa yang bakal kepikiran hal seperti itu...?"

"Aku!" Haruaki mengangkat tangannya. "Tentu saja aku memberi satu suara! Aku tidak tahan melihat kau mesra terus-terusan dengan Maria-chan!!"

Aku hampir jatuh karena syok.

Aku yakin Haruaki cuma bercanda, tapi akhir-akhir ini, tatapan yang kuterima semakin menyeramkan. Walaupun aku tidak berpikir Otonashi-san satu-satunya alasan hal ini—

"Mh? Kenapa kau melihatku?" tanya Kokone.

"......tidak apa-apa."

Pasti dia tidak tahu kalau kedekatanku dengannya juga termasuk salah satu faktor...

Kokone hanya menelengkan wajahnya. Setelah keabadian yang kami habiskan dalam kelas yang tak pernah berubah itu, akhirnya dia mengganti gaya rambutnya dengan kuncir di salah satu samping kepalanya. "Ekor samping," ya?

"Eh, eh, aku sudah lama penasaran, nih: Gimana sih, caranya kau menjinakkan Otonashi-san?!"

"Hei, bukan 'menjinakkan'..."

"Otonashi-san pasti dulu sering ditembak para cowok, jadi kamu tidak memakai cara yang mainstream, kan? Ah, aku tahu! Dengan suatu cara kamu membuat dia percaya kalau kamu adalah jodoh yang ditakdirkan untuknya!" Kokone berkata dengan penuh kemenangan dan mulai membuat komentar-komentar lucu. "Apa, ya... mungkin kamu menyelamatkan dia dari orang mesum yang menyerangnya... Oh, bisa jadi, kan?! Orang itu bilang, 'Hei, manis, udelmu pasti wangi... Eh! Itu bukan keropeng, kan? T-Tapi nggak masalah!!' dan saat dia hendak menyerang, kau selamatkan Otonashi-san dari tangan jahat. Begitu, ‘kan!?"

"Aku mungkin tidak melakukan hal seberani itu... eh tunggu, kami ini bukan pacar! "

Memang seperti itulah kebenarannya, namun senyum Kokone semakin lebar.

"Jadiiii, bagaimana penjelasanmu untuk insiden saat upacara pembukaan, mm? Mm? Mmmm?"

"Kami—Aku—"

Aku paham betul bagaimana semua orang salah paham tentang pernyataan perang di upacara pembukaan sekolah. Aku harus mencari penjelasan yang akan menghapus seringaian lebar di wajah Kokone.

"Itu cuma karena Otonashi-san kebetulan sedang agak aneh—"

"—Aku orang aneh, kau bilang?" Suara yang familiar terdengar dari belakangku, dan aku dengan enggan berbalik.

Maria Otonashi.

Ketika melihat wajahnya, tubuhku menjadi kaku—bukan karena tuduhannya membuatku meneteskan keringat dingin, namun hanya karena aku tidak siap memandang parasnya yang sangat cantik.

Aku belum terbiasa dengan sifat pantang menyerah dan penampilannya yang menarik perhatian. Aku gugup. Aku menghitung sampai tiga dalam kepalaku seperti biasanya setiap aku hendak berbicara dengannya.

Aku sudah bersama Otonashi-san selama waktu yang sebanding dengan seumur hidup manusia. Aku sadar akan fakta itu. Tapi aku tidak merasa ingin menghabiskan sepanjang waktu itu dengannya lagi.

"Kenapa tegang sekali? Apa kau kira aku marah? Aku tidak akan marah gara-gara itu, ‘kan?"

"B-Benar."

Sementara kebinngunganku masih membuatku terpaku, Asami-san tanpa suara berjalan tertatih ke arah Otonashi-san dan memosisikan diri di belakang tubuhnya.

"...Mm? Ada apa, Asami?"

Asami-san tidak menjawab dan hanya terus menatapku. Haruaki membuka mulut.

"Ia bersikap agak aneh hari ini. Mungkin dia takut Hoshii merebut kamu, Maria-chan! Karena momen Bekal Makan Siang istimewa."

"......Beraninya kau panggil dia 'Maria-chan'. Kau semestinya menggunakan '-sama'..." Asami-san sekali lagi menggumam, nyaris tanpa membuka mulitnya sementara terus melihat ke arah bawah.

"Ngomong-ngomong, yuk, Kazuki."

"Mm, ke kantin?"

Otonashi-san menghembuskan nafas yang dilebih-lebihkan.

"Apa niatku benar-benar sulit ditebak, bahkan setelah aku bilang ingin membuatkan bekal untukmu? Aku ingin menghindari kantin sekolah."

Menghindari kantin sekolah?

Kami bertemu di sana setiap hari selama jam makan siang untuk mendiskusikan hal-hal yang menyangkut dengan box dan O. Meski begitu, informasi baru sulit untuk didapat dan kami sangat jarang membicarakan hal-hal yang mesti dirahasiakan dari orang lain. Sebenarnya, tidak ada yang terjadi sejak Maria pindah ke sekolah ini. Jadi, kantin sekolah sudah sangat pas untuk kami.

Namun, hari ini ia ingin menghindari kantin.

"Jadi itu sebabnya kau membuatkan aku bekal... Tapi bukannya kau bisa belikan aku sandwich saja?" bisikku.

Otonashi-san tiba-tiba mendekatkan kepalanya ke wajahku dan berbisik ke telingaku: "...Aku sudah muak dengan sandwich di kantin selama 'Rejecting Classroom,' kalau kau mengerti maksudku..."

Mm... bisa dimengerti kalau dia tidak ingin orang lain mendengat istilah Rejecting Classroom, tapi kalau dia mendekati wajahku di depan Asami-san, Asami-san bisa salah paham, ‘kan?

Aku melirik Asami-san, dan sesuai dugaan, tatapannya semakin tajam.

"Mm, Maria-san. Boleh aku ikut...?" tanya Asami-san.

"Maaf, Asami. Aku ingin berdua saja dengan Kazuki hari ini."

"Hanya berdua..."

"Nah, Kazuki, kita pergi sekarang, yuk?"

Otonashi-san memegang lenganku dan mulai berjalan. Haruaki mengeluarkan siulan tak diundang.

...Bagaimana Asami-san merespons kejadian ini?

Aku menoleh dengan panik dan mendengar ia menggumamkan sesuatu sambil memandang ke arah kakinya sendiri.

"......Andaikan kecoak betina dengan perut besar masuk ke dalam mulutmu, menaruh telurnya di dalam perutmu, telur-telur itu menetas, dan perutmu akan terkoyak...!"

Dia benar-benar mengerikan!


30 April (Kamis) 12.43[edit]

"Tempat ini benar-benar terasa nostalgis," ucapku saat kami sampai di belakang gedung sekolah.

Kami kadang-kadang berbicara di tempat ini saat kami terperangkap di 'Repeating Classroom'.

Namun, Otonashi-san tidak terlihat ingin membicarakan kenangan juga: setelah menatapku tajam, ia mengambil kotak bekal yang dibungkus dengan kain dari tasnya dan menyerahkannya padaku.

"...M-Makasih."

"Sama-sama."

Aku menguraikan ikatan kain pembungkusnya dan membuka tutup kotak bekal itu . Isinya terlihat lumayan biasa, yang bagiku sedikit mengejutkan.

Aku mulai menyuapkan sepotong asparagus yang dibungkus daging ke dalam mulutku.

....Mhm, rasanya juga biasa.

"Um... Aku suka sekali asparagus-bungkus-dagingnya."

"Itu dari supermarket."

........Ooh, begitu, ya. Ya, tidak heran kalau rasanya hambar sekali.

Selanjutnya, aku menggigit hamburger steak. Sama seperti asparagus, penampilan dan rasanya biasa saja.

"......Mm, aku suka sekali hamb—"

"Itu juga dari supermarket."

...Sudah kuduga!

Aku melihat isi kotak bekal yang lainnya. Nampaknya kentang, bakso, bola-bola, dan sayuran, semuanya barang jadi dari supermarket.

"Tidak usah repot-repot—tidak perlu memaksakan diri untuk memujiku."

"...Otonashi-san, apa kau tidak pernah memasak selama kita terjebak di Rejecting Classroom?"

Sebelumnya, ia pernah bilang kalau selama hari-hari yang terus berulang itu ia telah berlatih banyak keterampilan, salah satunya bela diri. Kelihatannya kamu ingin sekali mengkritik masakanku, ya?"

"B-Bukan, bukan itu maksudku..."

"Sudah, tidak perlu menyangkal lagi...Yah, aku tidak tersinggung. Aku berlatih memasak, dan cukup berbakat untuk menghidangkan beberapa masakan yang cukup mewah, tapi aku tidak pernah mendalaminya. Soalnya, aku tidak bisa merasakan kesenangan saat melatih keterampilan memasakku."

"Jadi karena itu bekalku ini terasa pelit sekali..."

"Sekarang kita bicara biasa saja."

Ups.

Aku mengintip ekspresi Otonashi-san. ...Dia tidak kelihatan tersinggung…sepertinya.

"...Um, ngomong-ngomong, apa kau tidak peduli dengan rasa makanan pada umumnya juga?"

"Itu tidak benar. Aku senang saat memakan sesuatu yang enak."

“Kalau aku boleh tahu, apa makanan favoritmu?"

"Strawberry tart. Pokoknya, makanan manis yang mengandung stroberi—hei, kenapa kau berhenti mengunyah?"

"Ah, tid―"

Makanan kesukaanmu seimut itu? Aku bisa membayangkan kau suka pasta ubi, tapi aku tidak mengira stroberi cocok dengan seleramu. Itu yang hendak aku katakan, tapi untung saja aku bisa menahannya. Nyaris saja.

"Hohoo, tidak terima dengan makanan kesukaan seseorang—berani juga, ya, kamu?"

"......Aku tidak bilang. Kamu sendiri yang bilang."

"Siapa yang cocok dengan ubi?"

...kenapa kau bisa dengan mudah membaca pikiranku, Otonashi-san?

"Jadi kau suka makan, tapi tidak suka memasak," rangkumku, mengalihkan perhatiannya kesalahan langkahku.

"Memasak sendirian itu tidak terlalu menyenangkan. Seluruh prosesnya terasa seperti pekerjaan yang sia-sia."

Aku mengerti. Ia tidak punya orang yang ingin ia berikan masakannya di Rejecting Classroom. Aku sendiri tidak sering memasak, tapi aku tahu bahwa salah satu kesenangan saat memasak adalah melihat orang lain menikmati apa yang kau hidangkan untuk mereka. Jadi saat tidak ada orang lain yang ingin kau berikan masakanmu, mungkin masakan itu hanya akan terasa sia-sia.

"...Tapi tidak masalah. Aku bukan mengajakmu ke sini untuk ngobrol saja."

"Y-Ya."

"Kita langsung ke masalahnya saja," kata Otonashi-san, setelah merogoh tas dan mengeluarkan ponsel miliknya. "Aku mendapat e-mail kemarin, tengah malam."

"E-mail?"

Ia mengeluarkan ponsel dari sakunya tanpa berkata apa-apa.

"Keinginanku yang paling dalam telah terkabul. Sekarang kita bisa bersama untuk selamanya

Begitu kata-kata yang tampil di layar monitor.

Apa ini? Rasanya seperti... petikan SMS gombal dari pasangan yang baru saja jadian? Hah? Jadi, Otonashi-san pacaran dengan seseorang? Sang Otonashi-san yang aku kenal ini?

Aku melihat Otonashi-san. Ia tersenyum kecut melihat reaksiku.

"Yah, aku benar-benar tidak menyangka setelah bertemu denganmu hari ini... Kazuki, lihat siapa yang mengirim pesan ini."

Aku menurut. Nama di kolom 'Dari' ―

"Hah?"

―"Kazuki Hoshino"

Aku pengirim e-mail ini? ...Tidak, tidak, itu tidak mungkin. Aku tidak ingat menulis pesan seperti ini. Tapi buktinya ada di depan mataku...

"Awalnya aku kira ini cuma scam, tapi itu tidak mungkin dengan fitur ‘spam filter’-ku. Jadi bisa disimpulkan bahwa e-mail ini dikirim dari ponselmu."

"Tapi Otonashi-san, aku tidak mengirim ini―"

"Bagaimana kalau kita cek folder Pesan Terkirim-mu? Kecuali ada yang sudah mengosongkannya, e-mail itu mestinya ada di sana."

Aku menganngguk dan mengeluarkan ponselku. Dan yang membuatku kaget…

" Keinginanku yang paling dalam telah terkabul. Sekarang kita bisa bersama untuk selamanya."

…aku melihat pesan yang sama di folder Pesan Terkirim.

"I-Ini―" wajahku pucat pasi.

"Tenang, Kazuki. Dari ekspresimu barusan, aku tahu kalau kau tidak mengirim e-mail ini karena kau sedang mabuk kepayang. Tapi jika orang lain yang mengirimnya, maka orang itu harus menggunakan HP-mu setelah jam 2 pagi ini untuk melakukannya."

E-mail itu bertanggal 30 April. Berarti dikirim pada pukul 02.23 pagi ini.

Pada saat itu, ponsel ini berada di sebelah bantalku. Aku bangun setelah mendengar Otonashi-san menelepon, jadi itu pasti benar. Apa seseorang menyelinap ke kamarku malam itu? Serius? Kenapa ada orang yang berbuat sejauh itu...?

"Kazuki," kata Otonashi-san saat aku berpikir keras. " Kau tahu bagaimana aku bisa masuk ke dalam box yang kita sebut Rejecting Classroom?"

"...?"

Aku tidak tahu apa yang hendak ia bicarakan.

"Ini ada hubungannya dengan hal yang sedang kita bicarakanAku pernah bilang bahwa aku bisa masuk ke Rejecting Classroom karena aku sendiri juga sebuah box, tapi itu tidak menjelaskan bagaimana cara aku melakukannya, bukan?"

"...Benar juga…"

"Selain masuk ke dalam box, aku juga bisa mendeteksi dan menemukan lokasinya"

"...Ya."

"Bagaimana seseorang bisa mengirim e-mail dari ponselmu ke ponselku pada waktu sekitar jam dua malam? Alternatively, bagaimana seseorang membuat kita percaya bahwa hal seperti ini benar-benar terjadi? Pasti ada beberapa cara untuk melakukannya, tapi aku memikirkan beberapa kemungkinan ini."

Ia meneruskan.

"Ini adalah kekuatan sebuah box."

box?

"Eh... aku tidak tahu kenapa kau cepat mengambil kesimpulan itu. Maksudku, kenapa ada orang yang mau meminta pada box hanya untuk―"

"Kazuki, apa kau tidak mendengarkan? Aku bisa mendeteksi box. ...Ah, tapi kau benar: e-mail tadi bisa saja tidak ada hubungannya. Tapi ada satu hal yang bisa aku jamin."

Otonashi-san menatapku dengan serius.


"Ada seseorang yang menggunakan box di dekat sini."


Bukan kata-kata yang diucapkannya, namun wajah seriusnyalah yang menyadarkanku. Kini aku tahu, sesuatu akan segera dimulai.

Ini terjadi lagi.

Sekali lagi, sebuah box akan menghancurkan kehidupan sehari-hariku.

"Oke, Kazuki. Kembali ke e-mail itu. Anggaplah sebuah box terlibat, what might be the significance of that message. Rasanya terlalu optimis kalau kita berpikir bahwa owner hanya ingin mengerjai kita setelah mendapat kekuatan, bukan?"

"...Apa yang kau pikirkan?"

"Ini pernyataan perang untuk kita, atau mungkin hanya penelitian sederhana."

"Penelitian...?"

Apa tujuannya? Otonashi-san sudah jelas belum berpacaran dengan si owner.

"Pesan itu bisa jadi sebuah metafora. Atau box yang digunakan untuk mengubah masa depan dengan ini... tapi kita bisa yakin akan satu hal." Otonashi-san menghembuskan nafas dengan lembut dan melanjutkan kata-katanya. "Si owner mencoba mengganggu kita secara langsung dengan box-nya."

Benar, that's what it boils down to. Kalau tidak, tidak akan ada alasan bagi owner untuk mengirim e-mail seperti itu dari ponselku ke Otonashi-san.

"...Apa yang harus aku lakukan?"

"Sudah jelas bahwa sebuah box sedang digunakan. Aku harus mencari tahu bagaimana box itu digunakan dan mengetahui sifatnya. Aku ingin kau membantuku. Kau peka dengan perubahan-perubahan kecil di kehidupan sehari-harimu, 'kan? Mungkin kau bisa mengetahui beberapa keganjilan yang tidak akan kusadari."

"Oke. Aku akan memperhatikan dengan teliti."

"Bagus. Akan kuusahakan untuk menghubungimu kalau aku menemukan sesuatu yang baru."

Karena diskusi sudah selesai, aku kembali pada makananku. Namun, karena Otonashi-san berhenti menggerakkan sumpitnya, aku juga ikut berhenti.

"Ada lagi yang kau pikirkan, Otonashi-san?"

"Mmm... yah, sedikit," Otonashi-san berkata dengan samar. "Bukan masalah besar, sungguh. Tapi ini sudah lama mengusikku, dan aku tidak suka, jadi biar aku bicara jujur."

"...Oke, katakan saja."

"Ada apa dengan cara kau memanggilku?"

"Eh?"

Ia menanyakan pertanyaan yang tidak kuduga.

"...Kalau tidak ada alasan khusus,sih, tidak apa-apa," ucapnya, lalu kembali memakan bekalnya.

Meski aku ingin bertanya lebih jauh, aku memutuskan untuk mengabaikannya dan kembali memakan makananku juga.

30 April (Kamis) 22.38[edit]

Sedikit perubahan pada hari-hariku... Aku berusaha memikirkan itu sambil duduk dan menulis di meja belajarku, yang sudah kugunakan semenjak SD. Tapi tidak ada yang terpikir. Perubahan. Kami dikelilingi oleh berbagai macam perubahan.

Karena tidak bisa mengingat satu pun, aku iseng membuka HP-ku.

Foto Mogi-san yang memakai piyama tampil di layar.

Walau terlihat lebih kurus dari biasanya, ia sama sekali tidak terlihat menyedihkan. Foto itu diambil di Rumah Sakit. Ia tersenyum cerah sambil memberi isyarat “peace”.

"Kazu-chan senyum-senyum sendiri! Lihat gambar mesum, yaa?"

Aku cepat-cepat menutup ponselku saat mendengar suara saudara perempuanku.

"Ng-nggak, kok!"

"Kamu malu-malu~ Ada yang mencurigakan, nih~"

Kakakku, Luka Hoshino, tiga tahun lebih tua dari aku. Ia memanjat ke tingkat atas ranjangku dengan senyuman lebar di wajahnya... seperti biasa, ia hanya memakai pakaian dalam. Dasar, Luu-chan... dia tidak pernah mendengarkanku dan terus berkeliaran dengan pakaian seperti itu meski ia sudah hampir menginjak dua puluh tahun. Adik laki-lakimu ini masih remaja, Luu-chan, tahu tidak?!

"Aah, coba aku tebak: Kamu lihat fotonya Kasumi Mogi-san, ya~?"

"Ap―!"

Kenapa dia...?!

"Wah, tepat sasaran? Uhehe..."

"T-Tunggu sebentar! Kenapa kau tahu tentang Mogi-san...? Ah! Jangan-jangan kau main-main dengan HP-ku tanpa ijin?!"

"’Enggak, lah ~ Aku cuma melihat namanya satu kali waktu dia meneleponmu, oke? Itu tadi cuma tebakan~... ah, tapi kamu agak mesum, ya? Senang melihat foto seorang cewek?"

Ini sebabnya aku ingin punya kamar sendiri!

Untuk menyembunyikan wajahku yang malu, aku menggenggam erat ponselku dan menyelam ke kasur bawah.

"Hei, Kazu-chan, apa si Kasumi Mogi-san itu pacarmu?"

"B-Bukan!"

"Lalu, apa hubunganmu dengan dia? Atau yang lebih penting: Bagaimana perasaanmu kepadanya?"

"......uh..."

Hubungan kami... entahlah? Bagaimana perasaanku terhadap dia?

Dia memang menyatakan perasaannya kepadaku di Rejecting Classroom, dan mengirimiku foto berarti dia memiliki perasaan terhadapku... mungkin.

Aku tentunya tidak merasa terganggu dengan perasaannya terhadapku.

Tapi sejujurnya... aku tidak tahu apakah perasaanku lebih dari itu. Semua perasaan yang pernah kumiliki selama berada di Rejecting Classroom saat ini sudah sirna. Aku punya beberapa memori yang menyiratkan bahwa aku dulu memiliki perasaan yang serupa kepada Mogi-san. Namun karena memori-memori tersebut, aku sulit mempertimbangkan dirinya dengan tegas. Aku tidak tahu seberapa banyak aku bisa mempercayai memoriku lagi.

"Yah... kami teman, itu yang pasti!"

Kakakku tidak menjawab meskipun aku sudah menyiksa otakku untuk menjawab pertanyaannya. Saat aku mendekatkan telingaku , aku mendengar ia menghembuskan nafas dengan tenang dan teratur.

...Kecepatannya untuk terlelap tidur selalu saja membuatku takjub.

Saat itulah aku sadar aku belum membalas e-mail yang kupandangi, jadi aku mulai mengetik jawaban untuknya.

Aku melihat waktu yang tertera di sudut layar.

22.59


Aku sedang mengetik jawaban saat kesadaranku mendadak menjadi kosong.


30 April (Kamis) 23.18[edit]

Nah, waktunya menelepon.


Utsuro no Hako vol2 clock2.jpg










Balik ke 29 April (Rabu) Kembali ke Halaman Utama Lanjut ke 1 Mei (Jum’at)